Salary Talk #Muslim

Lagi ingin menyulis, menyulis, dan menyulis… tentang apa aja. Tumblr gw ini gak akan spesifik, bisa nulis bahasa Enggres dengan grammar dan vocab seadaanya buat belajar, bisa nulis bahasa Indonesia yang jauh dari EYD biar lebih lively… dan mungkin kapan-kapan gw bikin postingan dalam bahasa Sunda :p Bisa mejeng foto narsis bertag TO (Today’s Outfit) tapi bukan fashion blog, bisa curcol sesuka hati (tapi dikontrol), bisa mencurahkan hasil kontemplasi, ato juga bisa share hasil belajar seperti yang bakal gw tulis sekarang. 

Wallahu ta’ala a’alam bis showaab… namanya juga hasil pencarian sendiri, ditambah diskusi sama Bokap yang insyaAllah lebih berpengalaman dari gw, dan tanyak-tanyak sama teman-teman yang sama-sama belajar atau lebih dulu belajar.

pic from: islamedia.web.id

[Cerita di kantor, minggu lalu]

Rasa penasaran dimulai dari teman kantor yang mendaftarkan diri agar gajinya setiap bulan otomatis dipotong zakat. Kenapa dia daftar? Jawaban temen gw itu karena zakat penghasilan wajib sebagaimana zakat yang disyaratkan untuk zakat hasil pertanian. Karena ini “zakat”, maka hanya berhak disampaikan kepada 8 golongan mustahiq zakat (Fakir, Miskin, Amil, Muallaf, Riqab, Gharimin, Fisabilillah, dan Ibnu Sabil). Dengan adanya pengkoordiniran dari kantor ini, insyaAllah penyalurannya tepat kepada mustahiq. Intinya kemudahan ibadah lah untuk si temen gw, kalo ngurus sendiri entah kemana cari Amil yang ngurusinnya.

[Cerita di rumah, bulan-bulan kemaren]

Selama ini gw selalu nitip sama nyokap, sebagaimana yang kakak gw lakukan (niru-niru aja biar gampang). Dan selama sekian lama juga gw menganggap “titipan” gw itu sebagai zakat penghasilan 2.5%, sampai pas beberapa bulan yang lalu ini gw heboh waktu tau nyokap ternyata nyalurinnya ke suatu tempat, yang mana bukan Amil ataupun golongan mustahiq. Pikir gw: “Nah loh…itu kan zakat, ga aci dong kalo ga nyampe ke mustahiq?”

Akhirnya dijelasinlah sama bokap, kalo penghasilan itu tidak dikenakan zakat jika belum kena nishab dan belum satu tahun tersimpan. Jadi apa yang selama ini gw titip lewat nyokap itu masuk ke dalam infaq… 

Obrol-obrol di BBgroup juga sebetulnya cukup mengarahkan gw kepada kesimpulan bahwa zakat penghasilan itu tidak disyaratkan. OK, jadi selama ini gw “gak paham”, dan itu sebetulnya masuk infaq #selfnoted. 

[Heboh googling]

Penasaran lagi kan gw minggu lalu tentang zakat atau infaq, yasudah kugenapkan raga ini untuk googling dan tanya-tanya bokap lagi… dan sampailah gw ke banyak web, salah duanya ini dan ini dengan kesimpulan sbb:

  • Penghasilan bulanan tidak dikenakan zakat profesi, tetapi akan sangat baik jika dikeluarkan infaq atasnya, di mana jumlah infaq ini tidak ditentukan.
  • Penghasilan ini akan dikenakan zakat (sebesar 1/40 atau 2.5%) jika sudah sampai nishab & haulnya.
  • Nishab adalah kadar/nilai tertentu yang ditetapkan dalam syari’at apabila harta yang dimiliki oleh seseorang mencapai nilai tersebut, maka harta itu terkena kewajiban zakat, yaitu apabila harta telah mencapai 85 gram emas.

    Haul adalah masa satu tahun yang harus dilewati oleh nishab harta tertentu tanpa berkurang sedikitpun dari nishab sampai akhir tahun.

Sejauh ini, di sana bahasan terlogis yang gw bisa pahami dan terima. Wallahualam 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s