Umrah 2012 Part II: The Rihlah(s) & The Last Drama

H3, Minggu (6/5)

Untuk hari-hari selanjutnya di Mekkah setelah Umroh di hari Sabtu, Bokap, Nyokap, dan gw hanya melaksanakan thawaf sunat sebelum Subuh. Alasannya sangat ‘manusiawi’, biar udaranya masih nyaman :D. Jadi kami berangkat dari hotel pukul 3.30 dini hari agar waktu thawaf juga tidak terlalu dekat  dengan waktu Adzan Subuh.

Siang harinya adalah jadwal ziarah ke tempat-tempat bersejarah di Mekkah. Secara singkat urutannya demikian:

  • Jabal Tsur, bukit tempat Gua Tsur berada… yaitu tempat bersembunyinya Rasul & Abu Bakar dari kejaran kafir Quraisy pada saat akan berhijrah ke Madinah. Atas pertolongan Allah, di mulut gua persembunyian tersebut ada laba-laba & burung yang membangun sarang sehingga seolah tidak mungkin ada orang di dalam gua itu. Di sini banyak onta, agak hati2 aja ye kalo lagi sepi bisa2 numpang foto doang bareng onta lo disuruh bayar.
  • Jabal Rahmah, tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah keduanya diturunkan ke bumi. Lumayan banyak yang niat naik ke atas bukitnya beberapa karena tahayul biar cepet dapet jodoh, tapi saking panasnya gw sih milih beli esgrim aje, yang mana abis beli juga kayaknya gak sabar banget dia pengen meleleh.
  • Mina & Padang Arafah sebagai tempat pelaksanaan Jumroh & Wukuf saat haji, hanya sekedar lewat saja.
  • Jabal Nur, bukit tempat Gua Hira berada… yaitu tempat di mana Rasul mendapat wahyu pertama dari Allah (QS Al Alaq 1-5) melalui Malaikat Jibril. Bisa dinaiki tapi jauh banget ajah, harus berangkat dari Subuh kalo mau pulang belum dalam keadaan terik.

bekgron: Jabal Rahmah

H4, Senin (7/5)

Hari ini Pak Ustadz menjadwalkan kumpul untuk ceramah di aula hotel. Ceramah pagi mengenai fitrah manusia, di mana kita sebagai manusia terlahir dalam keadaan fitrah dan sejauh apakah kita mampu menjaga fitrah itu sampai meninggal nanti. Sore-sorenya udah heboh sama Nyokap buat belanja korma di toko kenamaan sebrang Al Haram #halah. Sebenernya korma di mana-mana sama aja sih, Cuma di sini walaupun kiloan (dan bisa icip-icip) nantinya bisa dikemas dengan box karton bagus yang dibuntel plastik elastis jadi mudah & rapi untuk oleh-oleh.

H5, Selasa (8/5)

Dadah2 😥

Kenapa kemaren harus udah heboh belanja korma? Soalnya hari ini rombongan berangkat ke Madinah naik bis, sekitar 6 jam perjalanan. Subuhnya udah sempet thawaf untuk yang terakhir kalinya (saat ini). Hope this wouldn’t be my last, tentunya 🙂

Rombongan sampai di Madinah sekitar pukul 9 malam, kami menginap di Dallah Taibah hotel milik grup Dallah yang punya banyak amat usaha berlabel Dallah (macam Bakrie-nya Arab gw rasa?). Hotel ini hanya berjarak 50meter dari Nabawi.

H6, Rabu (9/5)

Seperti di Mekkah, di Madinah juga kami melakukan ziarah ke tempat-tempat berikut:

  • Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah
  • Masjid Qiblatain, masjid pertama dilakukannya perubahan kiblat dari Al-Aqsa ke Al-Haram
  • Pasar kurma Madinah, kalo di undang2 notenya “cukup jelas”
  • Jabal Uhud, bukit tempat terjadinya Perang Uhud antara kaum Muslimin dengan kafir Quraisy
bekgron: Masjid Quba

H7, Kamis (10/5)

Perjalanan 6 jam menuju Jeddah *gak gak gak rela… gak gak gak rela… aku gak rela pulang ke Indo Indo Indonesia*
Sampai di Jeddah sekitar pukul 5 sore, di mana bisnya langsung menuju Laut Merah (just for potoh-potoh… halah) lalu ke Corniche… tempat belanja para “jama’ah turis” Indonesia. Indonesia loh ya, catet… hampir semua toko namanya ada kata2 murahnya… ada Ali Murah, Kamal Murah, Amir Murah, …. Murah, hrrr… Makin surprise pas pedagang-pedagang Arabnya ternyata bisa bahasa Sunda sedikit-sedikit (you know… the wilujeng sumping & kumaha damang kind of words… :))) Setelah koper beranak-pinak Nyokap kayaknya masih aja heboh karena inget si anu atau si Fulan belom kebagian oleh-oleh. Yeuuuuk mari…

Selesai belanja rombongan menuju Hotel Al Azhar  untuk istirahat dan packing buat besok. Nyanyi lagi * gak gak gak rela… gak gak gak rela… aku gak rela pulang ke Indo Indo Indonesia*

bekgron: Masjid Terapung & Laut Merah

H8, Jumat (11/5)

Flight pulang ke Indo jam 9 malam waktu Saudi dan dari jam 3 sore rombongan udah duduk cantik di King Abdul Aziz airport. Boleh di bilang tepat sebelum boarding ada kejadian yang bikin gw super terharu (I-cant-tell-you-what-but-so-what?) dan mikirin beberapa hal yang harus gw benahi di Indonesia. It may sound silly for some people, tapi salah satunya (yang paling sederhana) gw mau belajar pake kaos kaki. Why kaos kaki and why now? Ya karena mulailah dari saat ini dari hal yang paling gampang. #okesip.

Aaaaak, seriously… I don’t wanna go home! Bukan apa2… Gw gak siap menerima kenyataan bahwa gw harus dihadapkan pada cobaan-cobaan duniawi yang mengarah ke kesia-siaan dan dosa. My life was peaceful in Saudi… (gw gak perlu tau kalo Syahrince punya pacar orang Malaysia, misalnya!) Dan seketika gw mewek tak terbendung, di bandara. Mamfus… gw harus bilang apa kalo ditanya orang? Dan jawaban tersimpel yang langsung keluar adalah gw gak pengen pulang (yang sejujurnya gw juga heran sama diri gw sendiri yang sampe mewek begitu… hey me… why did you cry?) Ustad2 dan jamaah lain juga liat (dan tau kenapa gw mewek). Sebodo teuing dah, kapan lagi toh ktemuannya :p

Eeehh… tapi pesawatnya habis ambil ancang-ancang take off dengan speed darat yg skitar 300kmh itu loooh… gak naikk! Dan pesawat sukses muter-muter di landasan selama 2 jam. There was an engine problem, dan intinya perjalanan DIBATALKAN. Pak Ustad langsung bilang… “Neng, doanya diijabah yaaaa gak jadi pulang?” Aaaaaak… malu gw. :))

H9, Sabtu (12/5)

Setelah diinapkan semalam di Hotel, akhirnya Sabtu pukul 1 siang pulang juga. Alhamdulillah loh kemaren ga sampe terbang dan mesinnya rusak di ‘atas’ 🙂 Selalu ada yang bisa disyukuri toh…

H10, Minggu (13/5)

Nah kalo sampe di Indonya sih udah Minggu aja (maju 4 jam) ke pukul 2 pagi WIB. Berpisahlah kami dengan para rombongan di Bandara… berasa lebaran. (Nangis lagi gak gw? Sikit lah ya). I’m gonna miss the neneks, the ibuks, the ustads, some very nice families yang udah kayak sodara sendiri, the innocent girl & the soleh 18.y.o boy who call me Teteh (si bungsu berasa punya adek). Moreover, I’m gonna miss the holy land yang suasananya sangat berbeda dan sangat memberi ketenangan.

Gw yang asalnya sempet mikir “Ngapain sik umroh sering2…. Yg wajib kan hajinya” mencabut kata-kata gw pemirsah.  It was amazing, indescribable, period.

Alhamdulillah… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s