A Daughter’s 1st Love

Kala kecil aku tak mau dibilang mirip dengannya karena warna kulit kami tak sama

Semenjak remaja aku senang bukan main setiap disebut fotokopian-nya yang baru kusadari tampan

Kala kecil sampai remaja aku selalu menantikan saat-saat menjadi makmum Maghribnya, menanti bacaannya yang menenangkan

Tahun-tahun belakangan ini aku menyadari bacaan mad ‘arid lissukun-nya memendek karena nafasnya yang menua. Pertama kusadari, aku menangis.

Kala remaja aku tak mengindahkan nasehatnya membuang celana-celana jeans-ku

Baru-baru ini saja aku kalangkabut setiap membuka lemari dan tidak merasa baju-bajuku layak lagi

Kala itu, satu setengah tahun yang lalu dengan jantungnya yang melemah dia berujar masih ingin mengantar ijab kabulku. Aku pun kabur menangis.

Alhamdulillah, malam itu Allah menyelamatkannya.

Dan hari ini, aku betul-betul menyadari…. Siapa lagi yang bisa menasihatiku dengan contoh  kesabaran Nabi Ayyub menghadapi cobaannya… kalau bukan dia?

Forever Daddy’s little whiny girl

Advertisements

3 thoughts on “A Daughter’s 1st Love

  1. Satu hal yg bikin gw hancur adalah ketika nyokap diambilNYA. Blm sempat gw bales sgala pengorbanannya. So.. Bersyukurlah jika msh lengkap keduanya, n berilah yg terbaik untuk mrk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s